Jatuh Cinta Pada Lalat

Melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain adalah impian semua orang, apalagi menjalani hidup pada masa-masa pensiun. Berangkat dari pemikiran ini, seorang profesor dari Sumedang Jawa Barat ini telah melakukan riset ilmiah terkait manfaat belatung dalam kehidupan manusia.

Adalah Agus Pakpahan, hampir pada masa-masa pensiun ia selalu bicara soal belatung.  Itu dilakukannya paling tidak dalam lima tahun terakhir, yakni sejak 2013. Saat dia benar-benar yakin bahwa kunci masa depan Indonesia memang belatung lalat hitam.


Riset ilmiahnya diperkuat setelah profesor menyimak Quran, Surat Al-Hajj ayat 73. Dalam terjemahannya bahwa Tuhan menciptakan Lalat jelas disebut sebagai contoh, bukan sekedar sebagai perumpamaan.

“Dari makna ayat ini, saya mencoba bereksplorasi ternyata kalau dilihat secara harfiah, apa yang dikerjakan lalat sungguh sangat luar biasa. Sebab, Makhluk ini tidak mati di gudangnya penyakit (Tempat Sampah).

Hal ini diungkapkam profesor Agus Pakpahan dihadapan Gubernur NTB, Dr. Zulkiflimansyah, puluhan Kepala OPD Pemprov NTB serta para pemuda peduli sampah pada Launching pengelolaan sampah berbasis masyarakat desa di Unit Pengolahan sampah organik BSF Lingsar Kabupeten Lombok Barat, Kamis (8/11).


"Akhirnya saya pun jatuh cinta kepada lalat, diantara 200,000 jenis lalat di dunia ada satu lalat yg kita pelihara di sini. Lalat hitam ini juga tidak memiliki mulut dan sudah terbukti secara saintifik tidak mengandung patogen yang membahayakan manusia," tuturnya.

Unit Pengolahan sampah organik BSF di Lingsar Kabupeten Lombok Barat merupakan cabang yang dikembangkan oleh profesor bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB serta memberikan pelatihan kepada pemuda peduli sampah lainnya.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) 1978 ini dapat menunjukkan pentingnya belatung bagi kehidupan manusia, sampah yang penuh dengan belatung ketika diteliti di Laboratorium, ternyata isinya negatif salmonella, cabilobakter dan patogen lainnya. Artinya, si Lalat  melalui larvanya serta maggotnya, ia membantu manusia mendekomposisi sampah menjadi organik metter yang sangat bermutu sekaligus membersihkan sampah tersebut dari patogen-patogen yang membahayakan manusia.

"Oleh karena itu, apabila terdapat sampah yang penuh dengan lalat di rumah, maka ucapannya adalah subhanallah wal hamdulillah," jelasnya.

Masa depan bangsa. Bukan asal belatung saja. Namun, ini belatung lalat yang diyakininya paling tepat buat melangkah maju. Ini lalat hitam atau Hermetia illucens. Lalat yang juga populer dengan nama keren black soldier fly dan biasa disingkat BSF.


"Pasukan black soldier fly ini dapat menghabiskan 5 ton sampah organik setiap harinya. Oleh karena itu, saya terus membudidayakan belatung ini di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Provinsi NTB," tambahnya.

Gizi menjadi persoalan utama. Kecukupan protein menjadi keharusan. Hal itu yang membuat Agus segera terpikir pada telur. “Telur itu kan protein yang dikemas sangat bagus langsung oleh Tuhan,” katanya. Dia mencoba beternak bebek. Hanya dua tahun, setelah itu dia fokus pada lalat. Buku Flieskarya Stephen A Marshzall meyakinkannya untuk menekuni dunia lalat.

Baginya, lalat ini bukan semata urusan ternak-beternak tapi menyangkut peradaban. Secara teknis BSF memang menjanjikan. Seekor lalat hitam mampu bertelur sebanyak 500 butir dalam satu siklus. Dua puluh ekor lalat saja dapat menghasilkan 10 ribu maggot atau belatung. Cukup buat mengurai sekilo gram sampah organik yang menyisakan 200 gram pupuk berkualitas tinggi.


Terbayang manfaat yang dapat diperoleh. Sampah publik, yang kini banyak menjadi masalah, akan tertangani. Maka kini mulai banyak dikembangkan ternak lalat. Termasuk di berbagai tempat dekat penampungan sampah, seperti di Bantar Gebang, Bekasi yang jadi pusat sampahnya warga Jakarta saat ini. Belum lagi manfaat langsung dari maggot-nya.

Masyarakat luas perlu dibantu agar lebih sehat dan cerdas. Kuncinya apalagi kalau bukan penambahan protein. Sedangkan sumber protein paling mudah tentu peternakan dan perikanan rakyat. Ternak dan ikan perlu pakan murah berkadar protein tinggi. Maggot atau belatung lalat jelas pilihan terbaiknya. “Kadar proteinnya sampai 45 persen,” kata Agus.

“Dulu lalat dianggap masalah. Maka lalat hanya dibiakkan untuk riset, untuk  membuat insektisida pemberantas lalat,” ujarnya. Pandangan itu telah bergeser. Lalat disebutnya makhluk bersih, sehat, dan tahan penyakit. Itu sebabnya lalat kini dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Apalagi paradigma peradaban dunia juga mengalami perkembangan.

Pendekatan-pendekatan alternatif di berbagai bidang makin diperlukan buat peradaban sekarang dan masa depan. Sesuai perjalanan hidup dan minatnya selama ini, Agus masuk ke pendekatan alternatif peradaban lewat lalat dan belatungnya.

Sekarang ia bukan saja serius membudidayakan BSF di kampungnya di Sumedang. Agus Pakpahan juga aktif mempromosikan sang belatung lalat itu. Sudah puluhan kelompok tani dibinanya dalam urusan lalat, mulai dari Merauke hingga pedalaman Kalimantan. Usaha skala korporasi juga sudah dikembangkannya, yakni di Lampung, bekerja sama dengan PT Gula Madu Plantation. “Mengubah blothong (limbah ampas tebu) jadi sumber protein dan pupuk bagus,” katanya.

Kesungguhannya bergelimang belatung lalat kian berbuah. APC (alternative protein corporation) yang berbasis di Hongkong menggandengnya. Ini konsorsium empat perusahaan dari Inggris, Denmark, dan Swiss yang spesialis mengembangkan bisnis produk-produk alternatif. “Insya-Allah kami membangun pabrik di Medan untuk menghasilkan protein, lipid, dan sistin,” ungkap Agus. Bahan bakunya limbah sawit. Sedangkan pemrosesnya, apalagi kalau bukan lalat hitam: BSF.

Gara-gara lalat hitam itu Agus bahkan diundang diskusi selama dua minggu di beberapa tempat di Inggris. Dia bertemu dengan para saintis dari berbagai korporasi dunia, juga dengan para peneliti Durham University. Menurut dia, kita masih saja terjebak di paradigma peradaban modern, termasuk para akademisi, birokrasi, dan politisi. Padahal peradaban telah bergeser menuju ke kehidupan madani, civil society, neomodern.

Tak heran bila orang-orang menjuluki profesor ini sebagai komandan Laskar Lalat Hitam. Agus Pakpahan memang ingin berkontribusi membangun bangsa ini lewat ‘peradaban belatung’ lalat hitamnya.

Perjalanan hidup Prof Pakpahan sebenarnya jauh dari urusan lalat dan belatung. Ia memiliki keteguhan dari ayahnya yang berdarah Batak. Juga kelembutan dan kecintaan budaya dari suku ibunya, Sunda. Di tatar Sunda, tepatnya di Sumedang, dia tumbuh dan besar. Itulah kota tahu serta makam tokoh heroik Aceh, Cut Nya’ Dhien.

Bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian kian meneguhkan naluri meneliti doktor ekonomi sumber daya dari Michigan State University ini. Menduduki posisi struktural di pemerintah tak menyurutkan kecenderungannya, bahkan setelah dia menjadi direktur jenderal perkebunan, lalu menjadi deputi Kementerian BUMN. (Man/aan)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru