logoblog

Cari

Kisah Penyelamatan Pohon Terakhir Di Bumi

Kisah Penyelamatan Pohon Terakhir Di Bumi

Kisah sederhana ini, menutup rangkaian kegiatan The 6th Asia Pacific Geoparks Network (APGN) Symposium 2019, di Mataram, Jumat (6/9). Bercerita tentang

Lingkungan

Yuyun Erma Kutari
Oleh Yuyun Erma Kutari
22 September, 2019 11:38:33
Lingkungan
Komentar: 0
Dibaca: 2006 Kali

Kisah sederhana ini, menutup rangkaian kegiatan The 6th Asia Pacific Geoparks Network (APGN) Symposium 2019, di Mataram, Jumat (6/9). Bercerita tentang  perjuangan dua kelompok pasukan semut. Semut hitam dan semut merah, menyelamatkan pohon terakhir.
Menggunakan media Teater Wayang Botol. Cerita itu disampaikan. Dihadapan ratusan delegasi APGN Symposium 2019. Berakhir dengan decak kagum. Anak-anak semut hitam dan merah dan sejumlah lemusik adalah murid dari berbagai sekolah di Kota Mataram. Diantaranya, MAN 2 Mataram, MAN 1 Mataram, SMPN 13 Mataram, MTS 1 Mataram, MTS 3 Mataram, SDN 2 Cakranegara, SFN 1 Ampenan, SD IT Anak Soleh.
“Mereka yang ikut adalah anak-anak didik kai dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Dan Sanggar Anak Semesta,” terang Fitri Rachmawati, pendiri Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. 
Dalang wayang botol dalam pertunjukan yakni Abdul Latif Apriaman sekaligus Ketua Yayasan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak dan Jjang Akif Rachman, murid kelas enam SDN 2 Cakranegara. Begitu lihai menarasikan dialog pertunjukkan tersebut. 
“Persiapan untuk pertunjukan ini satu bulan, tapi adik-adik pasukan semut dan Sekolah Dalang tetap latihan rutin  setiap minggu,” ujarnya. 
Mengenai Wayang Botol. Fitri mengatakan bahwa ini  wayang alternatif. Terbuat dari sampah botol plastik. Hadirnya wayang botol merupakan salah satu cara Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, melatih anak anak mengatasi  sampah yang mereka produksi sendiri. Agar tidak menjadi penyumbang sampah plastik di Bumi ini. “Kami ingin menjadi bagian dari barisan panjang para penyelamat bumi, sebab bumi harus tetap terjaga sehat, cantik dan nyaman, karena bumi adalah rumah kita,” jelasnya. 
Pertunjukkan ini punya makna mendalam tentang penyelamatan bumi. Dikisahkan, di Negeri yang subur dan kaya raya, dua kelompok pasukan semut. Mereka hidup berdampingan rukun dan damai. Sampai akhirnya di bumi hanya tersisa sebatang pohon. Pohon Kehidupan. 
Pada perjalanannya. Pohon kehidupan yang seharusnya mereka jaga bersama, justru menjadi sumber perpecahan. Mereka berebut untuk menguasainya. Mereka bertikai. Mereka berperang. Sampai akhirnya mereka lalai, ada tikus rakus yang mengincar pohon kehidupan. Pohon terakhir di bumi. “Bagian ini adalah tema besar pertunjukan tersebut,”tegasnya. 
Itulah mengapa, ia dan tim mengajak Chair Person of UGG Council Mr Guy Martini, President of Global Geopark Mr Nicholas Zourous, Coordinator APGN Mr. Jin Xiaochi, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah dan dua perwakilan delegasi mancanegara, ikut ambil bagian. 
Dengan engajak petinggi APGN Symposium 2019 adalah bagian dari upaya Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, mengkampanyekan pentingnya semua bangsa untuk bekerja bersama mengatasi persoalan lingkungan secara global.
Karena tidak ada cara lain untuk menyelamatkan bumi selain bekerjasama. Pelajaran ini yang ingin ditanamkan kepada masyarakat, terutama anak-anak sedari dini, agar karakter mereka terbentuk. “Kita mengharapkan akan lahir generasi baru yang dengan persoalan disekitar mereka, termasuk persoalan lingkungan,” tandasnya. (yun)

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan