logoblog

Cari

Tutup Iklan

Keindahan Alam Kokok Sukun Desa Obel-obel

Keindahan Alam Kokok Sukun Desa Obel-obel

Assalamu alaikum Wr Wb... Hallo warga Kampung Media, bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja, ya. Oya, untuk kesempatan ini, saya akan menyampaikan

Lingkungan

Muhammad Madun Anwar
Oleh Muhammad Madun Anwar
31 Oktober, 2018 09:36:46
Lingkungan
Komentar: 0
Dibaca: 765 Kali

Assalamu alaikum Wr Wb...

Hallo warga Kampung Media, bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja, ya. Oya, untuk kesempatan ini, saya akan menyampaikan sebuah informasi mengenai sebuah lokasi yang indah menurut saya. Lokasi ini berada di desa Obel-Obel. Nama lokasi tersebut adalah Kokok Sukun. Ada yang tahu?

Bagi teman-teman yang sering jalan-jalan ke Obel-Obel atau sekitarnya, pasti tahu keberadaan lokasi ini. Kenapa? Sebab lokasi ini berada di pinggir jalan dan terlihat jelas. Mengenai namanya, mungkin sebagian besar dari kita pasti tahu, yaitu kata ‘kokok’ itu berarti sebuah sungai kecil yang airnya mengalir terus. Sedangkan untuk ‘sukun’, saya kurang tahu. Walau saya lahir di desa ini, saya tidak tahu bagaimana sejarhnya Kokok Sukun bernama demikian. Yang saya tahu, Kokok Sukun ini sering didatangi oleh warga setempat. Apalagi, dulunya Kokok Sukun digunakan sebagai sumber mata air. Semua warga berbondong-bondong untuk mendatanginya; mandi, sebagai air minum, mencuci, hingga lainnya.

Oya, teman-teman pasti bertanya, kenapa saya harus membahas ini? Dan apa kaitannya dengan tulisan ini? Jadi begini teman-teman, walau saya sering melewati Kokok Sukun ini, bukan berarti saya sering mampir di sini. Kalau waktu kecil, saya sering ke sini. Namun, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba terbersit keinginan saya untuk menelusuri Kokok Sukun ini. Hal utama yang membuat saya terdorong untuk menelusurinya adalah mencari bunga bangkai.

Kenapa demikian? Lagi-lagi saya bertanya. Ini murni karena tiba-tiba saya kangen tentang masa kecil dulu. Dulu, saat kecil, ketika sering berkunjung ke Kokok Sukun, saya sering menemukan bunga bangkai. Jumlahnya cukup banyak. Karena namanya bunga bangkai, pasti bau. Hingga pada akhirnya, saya dan beberapa teman sengaja melempar bunga bangkai tersebut hingga rusak. Namun sekarang? Ya, saya harus kecewa. Bunga bangkainya tidak ada sama sekali. Namun, berhubung saya terlanjur menelusuri Kokok Sukun ini, akhirnya saya mencoba untuk mengambil foto.

Setelah beberapa kali saya mengambil foto, saya melihatnya. Dan subahannalloh, Allah Maha Kuasa. Begitu indah saya lihat. Keindahan alam di Kokok Sukun ini masih terlihat indah seperti dulu. Walau, setiap waktu pergeseran perubahan itu tetap ada. Namun, bagi saya, setidaknya tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh tinggi cukup banyak dan membuat hal itu menjadikannya alam yang jelas menghasilkan oksigen untuk kehidupan.

 

Baca Juga :


Selain mengenai keindahan alamnya, tiba-tiba saja saya terbersit tentang desa parawisata yang mulai dikembangkan oleh desa-desa yang menyadari akan potensi desanya. Hingga sebuah tanya datang di benak saya, “Bagaimana kalau desa Obel-Obel dijadikan desa pariwisata?”. Pertanyaan itu tidak sembarangan datang. Sebab, bila saya tinjau, desa Obel-Obel memang memiliki potensi menjadi desa parawisata. Bagaimana tidak, pantai yang indah, pemandangan gunung yang indah, hamparan sawah yang indah, dan tentunya air di Kokok Sukun ini yang terus menerus mengalir, apalagi di dampingi dengan hutan yang membuat mata sehat untuk memandangnya. Selain itu, ada beberapa lokasi yang intinya, desa Obel-Obel ini sangat berpotensial dijadikan desa parawisata.

Namun... ya, namanya sebuah pemikiran; diterima atau tidak itu lumrah. Apalagi, desa Obel-Obel memiliki pemimpin. Jadi, mungkin saja kepala desa memiliki pertimbangan sehingga belum terbersit untuk menjadikan desa Obel-Obel menjadi desa parawisata. Tetapi, jika memang tidak dijadikan desa parawisata, seharusnya kepala desa lebih peka tentang daerah yang dipimpinnya. Contoh saja di Kokok Sukun. Seperti yang saya katakan tadi. Di Kokok Sukun itu alamnya begitu indah. Namun, ada beberapa yang sedikit membuat mata tidak akan enak memandangnya. Apa saja itu? Terutama terkait sampah. Banyak sampah anorganik yang berada di sana. Ya... semacam plastik bekas deterjen, atau snack yang memang sengaja dibuang oleh pengunjung. Berikutnya, ada yang buang air besar sembarangan tempat. Untungnya tidak di air yang mengalir. Namun, keberadaan ‘warna kuning’ itu cukup mengganggu pernapasan. Kemudian, ada saja yang membakar kayu-kayu kecil di sana. Bila tidak dikontrol, pasti akan berbahaya.

Dan... apalagi, ya? Hmm... sebaiknya, saya cukupi dulu tulisan ini. Takutnya, ada hal-hal yang nanti saya tulis dan jadi bomerang buat saya sendiri. Intinya, tulisan ini menjelaskan bahwa Kokok Sukun yang ada di desa Obel-Obel masih memiliki alam yang indah. Dan sebagai warga sekitar, saya berharap pemerintah setempat lebih memperhatikan asetnya, juga semoga desa Obel-Obel lambat laun menjadi desa parawisata. Tentu dengan pengolahan yang baik agar keindahan alam benar-benar murni, tidak terganggu dan rusak.

Baiklah. Sepertinya cukup panjang tulisan ini. Saya pamit dulu. Dan nantikan postingan saya selanjutnya, ya. Bye bye.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan