logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kembalikan Surgaku

Kembalikan Surgaku

Mantra dan Isyarat Hampir 35 tahun sudah, Mahesa pemuda desa kabupaten Lombok timur bagian selatan mengecap asin dan getirnya garam kehidupan, setiap

Lingkungan

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
03 Desember, 2016 13:17:54
Lingkungan
Komentar: 0
Dibaca: 3033 Kali

Mantra dan Isyarat

Hampir 35 tahun sudah, Mahesa pemuda desa kabupaten Lombok timur bagian selatan mengecap asin dan getirnya garam kehidupan, setiap langkah dan usahanya diabdikan semata-mata demi untuk mendapatkan kebahgiaan dimasa mendatang  yakni dalam kekalnya alam baqa’ yang hakiki seperti petuah gurunya ketika masih sangat belia sekali, waktu itu Mahesa masih dibawah pengasuhan Neneknya yang  bertangan cacat bekas kecelakaan semasa kecilnya, dikatakan neneknya bahwa semasa kecil waktu masih belajar merangkak, nenek mahesa pernah mendekati lentera minyak yang sedang menyala kemudian minyaknya tumpah dan kecelakaannitu tidak dapat dihindari.

Dalam pengasuhan neneknya mahesa menjadi remaja yang sangat menggemari ilmu pengetahuan utamnya ilmu-ilmu agama, sehingga mahesa tumbuh menjadi remaja yang sangat Tindih. meski dengan banyak kenakalan semasa remajanya, Mahesa terbiasa menginap atau tidur di mushalla-mushalla kampung dengan tujuan agar tidak bangun kesiangan dan bisa melaksanakan shalat subuh berjamaah, rutinitasinilah kemudian yang lebih melekat membentuk karakter dan pribadi mahesa yang taat beragama.

Mahesa semasa bersekolah kerapkali mendapatkan penghargaan atas prestasinya, baik di lingkungan sekolah maupun di tempat menuntut ilmua agamanya, kebiasaan mahesa setiaphari yang berjalan kaki menambah wawasannya untuk lebih mengenal lingkungan wilayah tempat tinggalnya. kala itu masih bernama sakre panegare, Mahesa bisa berjalan lebih dari satukilometer sebagai bentuk latihan mengekplorasi dari pengalamannya.

Salah satu kenangan yang paling sulit dilupakan mahesa adalah ketika mahesa sering pergi mandi disungai, sungai adalah surga bagi mahesa dan teman-teman kecilnya, seingatnya hamper sejumlah anak-anak dari berbagai desa berdatangan kepemandian Gerung (sebuah ceruk yang diapit dua bukit batu) disanalah Mahesa bersama teman-temanya menghabiskan hari-harinya yang penuh kebahagiaan.

Selain Gerung disungai tempat tinggal Mahesa juga terdapat sebuah ceruk yang airnya berputar, Ceruk itu oleh masyarakat tempat tinggal Mahesa dinamakan kokoh pleser (sungai yang mirip pusaran rambut dikepala) terkadang masyarakat kala Mahesa masih belia terkenal sangat angker karena dikelilingi oleh kebun dan hutan dengan aliran air sungai yang jernih dan besar. Masyarakat datang mencuci atau mandi dikala pagi atau waktu matahari mulai beranjak naik hingga waktu zuhur. Setelah itu masyarakat tidak berani datang lagi selain pada waktu tersebut.

 

Baca Juga :


Selain itu Mahesa kecil juga menghafal betul beberapa Lingkok (sejenis sumur dangkal yang airnya tak pernah susut) diantaranya Lingkok enggek, lingkok batu,dan banyak lagi lainnya. Lingkok-lingkok tertsebut oleh masyarakat di jadikan sebagai tempat untuk Nyenjarik  (mandi bagi orang yang ingin menyempurnakan kesaktian dan magisnya).

Mahesa tersentak ketika suara berdering nyaring membuyarkan lamunannya dilayar hape-nya Mahesa mendapatkan satu pesan singkat

“MARI SELAMATKAN GENERASI DARI ANCAMAN BANJIR DAN KEMBALIKAN SURGA SUNGAI KITA”

Lombok Timur 03 Desember 2016 (Abu Ikbal) -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan