logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menyapa Penulis Cilik

Menyapa Penulis Cilik

Saya agak terkejut saat diminta menjadi pembicara di depan anak-anak sekolah dasar. Terkejut karena biasanya saya bicara di depan setidaknya anak-anak

Lingkungan

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
19 November, 2015 19:47:54
Lingkungan
Komentar: 0
Dibaca: 3926 Kali

Saya agak terkejut saat diminta menjadi pembicara di depan anak-anak sekolah dasar. Terkejut karena biasanya saya bicara di depan setidaknya anak-anak SMP SMA atau Mahasiswa. Saya sampai menelpon teman wartawan untuk meminta jurus sekalian powerpoint yg bisa saya tunjukkan di depan anak-anak nanti.

Dan hari pelatihan singkat pun tiba.(19/11/15). Puluhan anak-anak ternyata sudah menunggu dengan tertib. Suasana hening. Mungkin karena saya satu-satunya orang asing di ruangan itu. Saya buka dengan salam dan langsung dijawab dengan salam yang keras dan membahana. Hmm otak saya langsung terpancing dan menghangat seketika oleh jawaban salam yang kencang tersebut. Lalu mulailah kami berinteraksi bercanda, terbahak-bahak, dan mencairkan suasana kaku ruang kelas. Suasana hangat bagi saya penting, agar tujuan pembelajaran nantinya bisa lebih akrab dan menyenangkan

Mereka semua masih kelas empat.

Tibalah saatnya to the point, “memaksa” calon penulis cilik itu, menuangkan tulisannya di lembaran buku. Seperti balapan F1, saya memulai aba-aba menulis cepat. Saya pancing, siapa yang menulis tercepat satu halaman penuh mendapat hadiah. Dan mulailah mereka menuliskan semua isi otaknya. Semua siswa harus menulis tentang Ibu yang melahirkannya.

Membaca tulisan mereka satu persatu saya terkejut. Sungguh mengagumkan. Saya tak membayangkan jika anak-anak kelas tiga itu mampu menulisakan kata-kata manis seperti itu. Coba baca beberapa kutipan ini :

“ Ibu, engkaulah bintang di hatiku, engkau menjadi awan yang terbang di hatiku” (Feby)

“ Ibu, kau seperti selimut yang melindungiku dari gigitan nyamuk” (Dinda Hasna Anjani)

Lalu tulisan lainnya “Engkaulah yang menjadi belahan jiwaku” (Gracia Salsabila)

bagaimana caraku membalas jasamu ini, beritahu aku, aku ingin selalu di sampingku, kau juga tak tergantikan, kaulah hidupku, kaulah jiwaku, aku ingin kau tahu betapaku mencintaimu ibu ( Risma Wardani)

 

Baca Juga :


Batin saya bergolak membaca tulisan seorang anak bernama Gilang. Kalau saja saya tahu anaknya saya akan mendekatinya dan meminta maaf, karena memberinya judul tugas yang membuatnya harus bersedih. Coba baca kutipan tulisannya.

Kau ibuku tercinta. Aku pasti menuruti kata-katamu. Tapi mengapa kau meninggalkanku. Saat ku kecil kau biasanya menyiapkan makan, merapikan buku. Kasihanilah aku. Dulu kau bersama keluarga tapi sekarang kau tidak bersamaku lagi. Ibu aku sudah besar. Kenapa ibu tidak pernah menjengukku.  Memang kau ibu ku satu-satunya, memang kau satu-satunya ku cinta tapi kamu ibuku tidak lagi bersamaku.  Ibuku kau meninggalkanku dengan ayahku. Ayahku orang yang sayang. Ibuku kasihanilah aku. Janganlah meninggalkanku. Kau mengurusku dari kecil hingga besar. Matamu bersinar ke matamu. (Gilang)

berinteraksi dengan para siswa SD menyenangkan bagi saya. Mereka adalah calon pemimpin di masa depan. Acara yang saya fasilitasi merupakan bagian dari program INTEGRASI , program AGSI dan Pangkalan , yang diselenggarakan oleh IBRA, sebuah kelompok Nirlaba yang dimotori oleh tokoh muda Kampung Banjar Ampenan. Menurut Baiq Indraningsih Kegiatan yang berlokasi di SD 7 Ampenan tersebut akan dilaksanakan selama 3 hari . Nantinya  setelah kegiatan menulis kreatif, akan dilanjutkan dengan kreatif mengelola sampah. Semoga anak-anak yang ikut dalam kegiatan tersebut, kedepannya menjadi manusia yang berguna. () -05

 

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan