logoblog

Cari

Tutup Iklan

Polisi Sungaiā€¦? Mengapa tidakā€¦!

Polisi Sungaiā€¦? Mengapa tidakā€¦!

Sebenarnya kalimat diatas terburu untuk dijadikan judul, karena akan ketahuan kemana arah tuisan ini berahir. Namun saya berusaha membelokkannya sedemikian rupa

Lingkungan

Abu Macel
Oleh Abu Macel
23 Desember, 2013 16:46:34
Lingkungan
Komentar: 0
Dibaca: 4198 Kali

Sebenarnya kalimat diatas terburu untuk dijadikan judul, karena akan ketahuan kemana arah tuisan ini berahir. Namun saya berusaha membelokkannya sedemikian rupa agar bisa memberi kesan rumit.

Kenapa dibikin rumit jika memang itu mudah?

Itu kan maunya penulis sebagai bumbu penyedap dari pengantar tulisan ini.

Mempermudah yang rumit itu kan hanya tugas ilmuwan. Tugas orang yang memiliki tingkat pemahaman mendalam akan makna hidup. Orang-orang berilmu itulah pemimpin yang sebenarnya, sebab orang berilmu itu bersih, sederhana, jujur, polos, apa adanya alias zuhud.

Kalau yang merumitkan kemudahan itu tugas siapa dong?

Yang ini sih gak perlu dijawab. Semua sudah tau. Kalau ada yang belum tau, tolong tanya sama yang tau. Begitu juga sebaliknya.

Kerumitan memang benyak terjadi disekitar kita. Misalnya, akibat rumitnya memperoleh transportasi dipelosok desa, maka tak heran jika banyak pelajar bergelayutan di angkutan umum. Bahkan nekad duduk diatas kap mobil.

Akibat rumitnya membendung jumlah pasokan kendaraan bermotor ke daerah, maka cukup dengan modal tersenyum di hadapan dealer, dalam sekejap sepeda motor bisa diperoleh. Kemungkinan ini juga penyebab bergeleparnya nyawa dijalanan saat mudik tiba.

Akibat rumitnya mengatur perilaku manusia dalam membuang kotoran, maka sungai jadi sasaran yang paling mudah sabagai tempat pembuangan. Numpuk dipintu air dan muara sungai.

Lantas, apa solusinya dong? Kalau hanya sekedar berceloteh seperti ini, banyak orang yang bisa.

Begini Bos. Sebenarnya ini kan sesuatu yang mudah. Cuma mau atau ndak melaksanakannya?

Lho, semua itu kan butuh proses. Butuh rencana yang matang, terukur dan terarah sehingga tepat sasaran. Harus melalui mekanisme yang legal dan resmi. Misalnya lewat Musrenbang alias Musyawaran Perencanaan Pembangunan dari tingkat nasional hingga daerah, atau melalui mekanisme Musyawarah Pembangunan Bermitra Masyarakat alias MPBM kalau di Kota Mataram.

Disitu semua didengarkan, dituliskan kemudian disusun oleh kumpulan orang pintar, orang sekolahan dan dijadikan daftar usulan kebutuhan untuk selanjutnya dibawa pada tingat pengambil keputusan. Makanya kalau mau usul ya disana saja, jangan seenaknya.

Kalau yang punya wewenang memutuskan tapi tak memberi keputusan, gimana hayo? Makanya pilihlah orang yang tepat dan pantas untuk diberikan wewenang memutuskan. Itulah pentingnya kita saling mendengar, saling berbagi gagasan dan ide. Itulah musyawarah. Sehingga kita tak termasuk dalam golongan orang yang dalam istilah suku Sasak Ye doang mele te dengah alias dia saja mau di dengar. Itu egois dan memaksakan kehendak namanya.

Sudah… sudah… sudah…. Katakan saja apa usul ente…? Lama-lama sakit angen (sakit hati) saya baca tuisan ini.

Tenang Bos. Orang tenang, hatinya tenteram dan wajahnya tersenyum sumringah, kata-katanya meneduhkan dan menyejukkan sehingga solusi mudah didapat.

Kita kan tau kalau ada Polisi Hutan yang mengurus dan menjaga hutan. Ada Polisi Udara dan Polisi Air yang mengurus dan menjaga keamanan udara dan perairan. Ada juga Polisi Lalu Lintas yang mengurus dan menjaga mobilisasi kendaraan di jalan raya. Semua itu dimaksudkan agar hutan, udara, perairan dan jalan raya terjamin keamanannya dari gangguan yang timbul dan menyebabkan malapetaka.

 

Baca Juga :


Nah, yang mengurus dan menjaga sungai itu kok ndak ada. Padahal kita semua tau penyebab bencana banjir ini kan akibat dari daya tampung sungai yang tak mampu lagi karena dipenuhi oleh limbah rongsokan sampah.

Mestinya, itu juga dijaga, diawasi, diurusi sehingga sungai itu terurus secara sistematis melalui mekanisme yang benar.

Kata Wakil Walikota Mataram Pak Mohan Roliskana, di Mataram kan sudah ada Tim Pemantau Sungai. Tugasnya sama dengan yang diinginkan yakni menjaga dan mengawasi dari kemandekan air sungai.

Wah keren dong….. singkatannya bisa menjadi TIMPES yang dalam bahasa sasak Lombok memiliki makna merapikan, menata atau sejenisnya. Dengan demikian Tim Pemantau Sungai ini juga memiliki semangat untuk merapikan dan menata sampah agar tak menggunung di setiap pintu air.

Mataram sebagai kota dengan tagline Maju Religius Berbudaya ini kan sudah terlihat melakukan penataan sungai. Cuma masih mengedepankan konsep ‘Maju’ yakni membangun fisik seperti memasang bronjong, tepi sungai dikemas indah dengan pasangan semen dan batu dengan maksud memperkuat dan memperindah pandangan. Namun dari sisi ‘Religius’ dan ‘Berbudaya’ belum nampak.

Caranya bagamana?

Sungai dalam makna religius itu kan bersih sehingga bisa digunakan untuk bersuci bagi masyarakat muslim. Tentu bersih yang dimaksud adalah tak berubah warnanya, aromanya tak berbau busuk.

Untuk mengawal konsep sungai bersih dalam perspektif religius diperlukan gerakan membangun kesadaran berpikir tentang sungai yang bukan menjadi tempat pembuangan sampah. Dengan demikian diperlukan gerakan masyarakat yang didukung pemerintah.

Gerakan ini bisa berbentuk penugasan warga sebagai juru dakwah di lingkungan masing-masing untuk memberikan pemahaman agar sungai bisa dijadikan tempat bersuci. Ini harus dilakukan secara menyeluruh, terukur dan berkesinambungan. Sementara warga lainnya ditugaskan untuk mengontrol sungai sebagai Waker atau Juru Kunci Air yang tak hanya membagi jatah air bagi petani saja, tapi mengontrol agar sampah yang menumpuk di pintu air bisa teratasi. Bukankah memperbaiki dan meningkatkan perilaku merupakan semangat berbudaya?

Jika air sungai bersih dengan serta merta masyarakat miskin kota yang berada di bantaran sungai bisa menghemat penggunaan air bersih dari PDAM. Makan dan minum pakai air PAM sedangkan mandi bisa menggunakan air sungai dengan cara menggayungnya dan disimpan di bak penampungan kamar mandi.

Kalau nantinya pemerintah berkehendak untuk merubah tehnologi menggayung manual dengan mesin yang digunakan dan dikelola bersama, tentu ini akan meringankan beban.

Jika air sungai yang digunakan bersih, tentu badannya bersih, hatinyapun bersih dan semangatnya juga bersih. Itulah energi yang mendorong mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan tak lagi dinobatkan sebagai kaum miskin.

Ini bentuk dari tugas pemerintah sebagai fasilitator pembangunan. Dengan menggerakkan potensi warga dan dibarengi dengan pembiayaan, maka pembangunan tak hanya badaniyah atau fisik saja namun pembangunan jiwa yang nyaris hilang mulai dirasakan.

 

“Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya…..” demikian suara anak-anak sekolah mengiringi bendera merah putih berkibar diangkasa saat upacara. Semoga suara mereka tak terbuang percuma keudara. []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan